Afirmasi atau membayangkan sesuatu sampai apa yang kita bayangkan itu mewujud adalah suatu hal yang nyata, karena saya sudah praktekkan beberapa kali dalam hidup saya. Namun ternyata afirmasi itu tidak selalu bagus, karena saat kita memperoleh apa yang kita inginkan saat melakukan afirmasi itu keadaan lainnya juga ikut berubah tidak sama seperti keaadaan lain saat kita lakukan afirmasi.
Saat saya melakukan afirmasi merantau, yang pada waktu itu saya dalam keadaan jomblo akut stadium 16 (gebetan udah dipacarin orang, deket sama cewe yang ternyata pacarnya sahabat dan banyak hal meng ngeneskan lain). Walaupun belum merantau tapi saya sudah berandai-andai dengan ortu pada waktu itu, dan setelah debat kusir yang lama dan melelahkan akhirnya direstuilah saya merantau (ini karena saya ngotot, dan tidak ada musyawarah pada waktu itu. Hehe).
Kemudian... kira-kira 10 tahun berikutnya datanglah kesempatan merantau itu, persis seperti dalam afirmasi saya sebelumnya. MERANTAU, hidup di negeri orang, menjadi bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, tidak ada saudara, tidak ada teman, tidak ada yang kenal....waahhh pokoknya bahagia rasanya. Eitt tunggu dulu, inilah maksud saya kalau afirmasi itu tidak selalu bagus bahkan menurut saya berbahaya (dan ini juga penyebab saya tidak lagi melakukan hal-hal yang berbau afirmasi lagi) karena saat kesempatan itu datang, saya sudah jatuh cinta dengan seorang wanita dan dia tidak suka dan tidak bisa hidup di luar bali.. nah loo.
Dapatkah pembaca rasakan dilema yang saya rasakan waktu itu? Saya dihadapkan pada pilihan cinta, cita-cita.. dua hal yang menurut saya bertentangan, cinta adalah pengorbanan, cita-cita adalah ke-egoisan. Cinta adalah memberi, cita-cita adalah meraih.
Jadi buat para pembaca yang sedang mempraktekkan afirmasi positif, ingatlah bahwa keadaan lain yang mengikuti kondisi afirmasi kita juga bakalan berubah. Dan sudah pasti tidak bagus, karena selalu ada dualitas dalam hidup ini, semuanya berdampingan. Afirmasi positif, keadaan lain yang mengikutinya pasti tidak cocok dengan hati kita, dan kalau sudah berhubungan dengan hati bila kita mementingkan ego (cita-cita) maka apa yang kita afirmasikan itu akan kita capai dan lakukan namun dalam keadaan hati hampa, karena cinta kita tidak ikut bersama.
Pilihannya pada waktu itu adalah apakah saya mengikuti cinta, atau cita-cita?
Note: hari ini saya masih berada di bali dan hidup bersama orang yang saya cintai itu, sampai tulisan ini dibuat, saya memiliki anak kembar laki-laki yang sangat cerdas dan menggemaskan :)
0 comments:
Post a Comment