Powered by Blogger.

Menjadi berkeluarga

sudah dari kecil kita di ajari, di doktrin, dan diberi semacam tuntutan bila kita "dewasa" nanti maka harusnyalah kita hidup berkeluarga. Bahkan di masa-masa kecil saya, saya diajarkan dengan tingkatan-tingkatan kehidupan mulai dari masa menuntut ilmu sampai menjalani hidup berkeluarga. Dan di keyakinan kedua orang tua saya, fase itu harus dilalui. Apapun konsekuensinya, bahagia ataupun tidak nantinya.

Belakangan seiring dengan bertambahnya umur dan perubahan pola pikir, saya melihat banyak sekali orang di eropa yang tidak menikah (baca: tidak berkeluarga). Dan belakangan ini juga baru saya ketahui beberapa sebab mereka tidak berkeluarga. Pertama ada yang tidak ingin terikat, ya jelas bila kita menikah hidup akan menjadi terikat. kedua tidak mau berkeluarga karena tidak mau terbebani dengan anak, ya jelas juga buah dari pernikahan adalah anak.

Hal seperti adalah dilema bagi orang-orang dengan budaya di Indonesia yang mana kehidupan berkeluarga harus dilalui. Jadi kita dianggap aneh bila memutuskan tidak berkeluarga. Padahal kalau mau jujur, banyak sekali kejadian dan situasi dalam berkeluarga yang bisa membuat panas pikiran. ya tentunya juga banyak hal yang bisa membuat bahagia dalam berkeluarga. Berkaca dari kehidupan orang di eropa yang tidak ingin berkeluarga, saya melihat mungkin sebabnya adalah kehidupan keluarga yang tidak harmonis dan akhirnya bercerai yang merugikan anak-anak. Dengan tingkat kecerdasa seperti di eropa, tanpa disadari ego juga meningkat. Nah, ego inilah yang membuat mereka tidak mau berkeluarga.

Kita di Indonesia masih tabu akan hal-hal macam ini.

padahal kalau menekan ego, kita memiliki kemungkinan menikmati kehidupan berkeluarga yang bahagia.

0 comments:

Post a Comment

 
2012 perjalanan | Blogger Templates for HostGator Coupon Code Sponsors: WooThemes Coupon Code, Rockable Press Discount Code